Archive for Mei, 2010


Kanker kulit diam-diam termasuk sepuluh besar jenis kanker ganas di Indonesia. Terbanyak diderita oleh kaum pria, sementara pada wanita masih kalah jika dibandingkan dengan kanker leher rahim, payudara, dan indung telur.

Tapi jangan ngeper dulu. Penyakit ini relatif mudah diketahui kehadirannya untuk kemudian ditanggulangi.

Andeng-andeng alias tahi lalat memang bisa sebagai pemanis wajah. Apalagi kalau letaknya pas, di atas atau di bawah bibir, misalnya. Wah, mudah bikin lawan jenis kepincut. Mungkin gara-gara itu, tidak sedikit wanita – terutama kaum gadisnya – dengan sengaja minta dibuatkan tahi lalat-tahi lalat-an alias andeng-andeng palsu dengan tato. Harapannya, tentu, biar kelihatan lebih gimana, gitu. Bahkan kalau nempel di bagian leher tertentu, katanya, membawa hoki.
Baca lebih lanjut

Iklan

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri]

Sahabat yang meminta wasiat dalam hadits ini bernama Jariyah bin Qudamah Radhiyallahu ‘anhu. Ia meminta wasiat kepada Nabi dengan sebuah wasiat yang singkat dan padat yang mengumpulkan berbagai perkara kebaikan, agar ia dapat menghafalnya dan mengamalkannya. Maka Nabi berwasiat kepadanya agar ia tidak marah. Kemudian ia mengulangi permintaannya itu berulang-ulang, sedang Nabi tetap memberikan jawaban yang sama. Ini menunjukkan bahwa marah adalah pokok berbagai kejahatan, dan menahan diri darinya adalah pokok segala kebaikan. Baca lebih lanjut

Setelah Perang Diponegoro berakhir (1825-1830) daerah Banyumas dan Kedu (Bagelan) terlepas dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta dan berada langsung di bawah pemerintahan Hindia Belanda.
Jendral De Kock mengunjungi Banyumas pada bulan November 1831 dan dengan Keputusan Jendral Van Den Bosch tertanggal 18 Desember 1831 dibentuklah Karesidenan Banyumas yang terdiri dari lima Kabupaten, yaitu : Banyumas, Ajibarang, Purbalingga, Banjarnegara, dan Majenang.
Kabupaten Banyumas pada masa itu terdiri dari tiga distrik yaitu : Banyumas, Adirejo, dan Purworejo Klampok. Kabupaten Ajibarang terdiri dari tiga distrik yaitu : Ajibarang, Jambu (sekarang Jatilawang) dan Purwokerto.
Karena bencana angin topan selama 40 hari yang melanda Kabupaten Ajibarang pada tahun 1832, maka ibukota Kabupaten pada tanggal 6 Oktober 1832 dipindahkan ke Desa Paguwon, Distrik Purwokerto.
Bupati Ajibarang pada saat itu adalah Adipati Aryo Mertodirejo II yang dapat disebut juga sebagai Adipati Purwokerto I.
Rumah atau pendopo Kabupaten Banyumas dan Kota Banyumas didirkan pada tahun 1582 oleh Kyai Adipati Wargautama II yang dapat disebut sebagai Bupati Banyumas I dan dikenal pula dengan sebutan Kyai Adipati Mrapat. Kemudian Adipati Yudonegoro II (Bupati Banyumas VII tahun 1707-1743) memindahkan Kabupaten Banyumas agak ke sebelah timur Baca lebih lanjut

Bersikap keras atau memberi hukuman secara fisik pada anak, betapapun ringannya perlu dihindari. Anak-anak yang terbiasa hidup dalam suasana kekerasan, apalagi menjadi korban penganiayaan serius yang mengancam keselamatan jiwanya, sulit untuk berkembang menjadi anak-anak normal. Baik secara fisik maupun psikologis.

Sebagian besar orangtua, kerabat atau pengasuh memang tidak pernah menempeleng, mengikat, menendang, merotan atau melakukan tindak penganiayaan “serius” lainnya pada anak. Tetapi cukup banyak pula yang terbiasa menghukum anak dengan hukuman “ringan” seperti mencubit, menjewer, mengguncang atau mengeplak anak. Mereka beranggapan bahwa tindakan-tindakan “ringan” seperti ini sama sekali tidak berarti bagi perkembangan anak. Baca lebih lanjut

Di kala anda tak mempunyai kata – kata untuk diucapkan, diamlah.
Lebih mudah mengetahui kapan anda harus berbicara dan mengumbar perkataan.
Namun, teramat sulit menjaga kapan sebuah jeda harus didiamkan.
Ingatlah, bibir bukan hanya untuk dibuka lebar².
Lebih sering kita perlu untuk mengatupkannya rapat².
Berbicara seringkali bagaikan menghamburkan paku pada jalan yang akan dilalui. Kita tak tahu pada paku yang manakah kita akan jatuh tersungkur.

Berbicara memerlukan sebuah pengendalian diri agar kata² berbicara sebagaimana mestinya.
Sedangkan diam adalah pengendalian itu sendiri yang harus diketukkan untuk menjaga sebuah harmoni.
Itulah mengapa orang bijak menyimpan butir – butir emas kebajikan mereka dalam diam.

Romantisme adalah cara mengungkapkan cinta anda. Tidak perlu hari khusus untuk mengungkapkan cinta karena justru tiap hari anda mempunyai kesempatan untuk itu. 10 tips ini mungkin tampak sepela bagi anda, tapi sampai seberapa jauh anda tahu bahwa hubungan cinta harus dibina setiap hari dengan melakukan 10 hal berikut.
1. Katakan ‘Saya Mencintaimu’. Pasangan anda membutuhkan kata-kata ini dari anda. Baca lebih lanjut