Archive for Oktober, 2011


Alhamdulillah setelah berselancar kesana – sini, akhirnya ketemu juga alunan merdu murotal anak juz amma (30) yang dibawakan oleh qari terkenal Ahmad Saud. Semoga bermanfaat

Ahmed Saoud – 085 – Al-Buruj.mp3

Ahmed Saoud – 086 – At-Tariq.mp3

Ahmed Saoud – 087 – Al-A’la.mp3

Ahmed Saoud – 088 – Al-Ghashiyah.mp3

Ahmed Saoud – 089 – Al-Fajr.mp3

Ahmed Saoud – 090 – Al-Balad.mp3

Ahmed Saoud – 091 – Ash-Shams.mp3

Ahmed Saoud – 092 – Al-Lail.mp3

Ahmed Saoud – 093 – Ad-Duha.mp3

Ahmed Saoud – 094 – Ash-Sharh.mp3

Ahmed Saoud – 095 – At-Tin.mp3

Ahmed Saoud – 096 – Al-‘alaq.mp3

Ahmed Saoud – 097 – Al-Qadr.mp3

Ahmed Saoud – 098 – Al-Baiyinah.mp3

Ahmed Saoud – 099 – Az-Zalzalah.mp3

Ahmed Saoud – 100 – Al-‘adiyat.mp3

Ahmed Saoud – 101 – Al-Qari’ah.mp3

Ahmed Saoud – 102 – At-Takathur.mp3

Ahmed Saoud – 103 – Al-‘asr.mp3

Ahmed Saoud – 104 – Al-Humazah.mp3

Ahmed Saoud – 105 – Al-Fil.mp3

Ahmed Saoud – 106 – Quraish.mp3

Ahmed Saoud – 107 – Al-Ma’un.mp3

Ahmed Saoud – 108 – Al-Kauthar.mp3

Ahmed Saoud – 109 – Al-Kafirun.mp3

Ahmed Saoud – 110 – An-Nasr.mp3

Ahmed Saoud – 111 – Al-Masad.mp3

Ahmed Saoud – 112 – Al-Ikhlas.mp3

Ahmed Saoud – 113 – Al-Falaq.mp3

Ahmed Saoud – 114 – An-Nas.mp3

 

Sumber : http://www.ilmoe.com.

Bu…, andai waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya kami menjadi anak yang hormat, patuh dan sayang kepadamu….

Kepada Tuhan, ampunkanlah segala kesalahan dan dosa orangtua kami dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami.

Bila keridhaan-Mu ada pada keridhaan orantua kami, maka ridhailah orangtua kami agar mereka meridhai kami juga. Andai Engkau sayang kepada kami lantaran kami sayang kepada orangtua kami, jadikanlah kami anak – anak yang menyayangi mereka dalam suka dan dalam duka.

Bila kami sedikit membayang, bagaimana kami dalam asuhan orangtua, dekapan orangtua, terutama ibu, rasanya takkan pernah tertebus segala kebaikan mereka, dan rasanya tak wajar bila kami melihat celah keburukannya.

Sekedar ngantuk tak dihiraukannya, sekedar cape dan lelah tak juga diindahkannya, semua demi kami, anak – anakmu.

Wahai pemilik Surga dengan segala kenikmatan, anadai Engkau takdirkan surge menjadi tempat kami kelak di hari akhir, amak orangtua kamilah yang lebih layak memasukinya terlebih dahulu.Dan anaikan bukan surge tempat orangtua kami, maka biarlah kami yang menjadi penebus bagi orangtua kami.

Engkau Pemilik hari akhir, dan di hari akhir ada ampunan dan azab-Mu, sedang Engkau Maha Pengampun lagi penuh belas kasih.

Kutipan : KUN FAYAKUN_ Selalu Ada Harapan Dibalik Kesulitan

Kita sering mengatakan bahwa kedelai dapat menjadi pengganti daging bagi mereka yang tergolong vegetarian. Kedelai merupakan gudang nutrisi dan Anda bisa mendapatkan manfaat kesehatan dari sejumlah produk berbasis kedelai seperti susu kedelai, tahu, tauge, kacang, saus dan tepung.

Kedelai adalah jenis kacang-kacangan yang banyak terdapat di Asia Timur. Mereka diklasifikasikan sebagai biji minyak. Kedelai dianggap sebagai protein lengkap karena adanya jumlah asam amino esensial. Manfaat kedelai ditemukan pada negara-negara seperti China dan Jepang, di mana masyarakatnya lebih kecil terkena penyakit jantung, osteoporosis, kanker payudara dan kelenjar prostat.

Berikut sejumlah manfaat kesehatan yang dapat Anda peroleh dari kedelai :

1. Antioksidan

Kedelai mengandung senyawa yang disebut isoflavon, di mana bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan. Senyawa ini bertanggung jawab untuk memperbaiki sel dan mencegah kerusakan sel yang disebabkan oleh polusi, sinar matahari dan proses tubuh yang normal.

2. Mengurangi resiko penyakit jantung

Protein dan isoflavon hadir dalam kedelai, membantu dalam mengurangi kolesterol LDL (kolesterol “jahat”) serta penurunan kemungkinan pembekuan darah. Hal ini pada gilirannya, mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke. Penelitian menunjukkan, konsumsi susu yang mengandung 25 gram protein kedelai selama sembilan minggu mengakibatkan penurunan 5% kolesterol LDL rata-rata.

3. Mencegah kanker

Isoflavon bertindak sebagai agen antikanker yang melawan sel-sel kanker. Melindungi tubuh dari kanker hormon seperti itu dari rahim, payudara dan prostat. Baca lebih lanjut

Ada sebagian orangtua yang mengajarkan kepada anaknya untuk makan cepat. Dan tampaknya hal ini sudah menjadi salah satu kebiasaan hampir semua orang. Tapi pernahkah Anda mencoba makan lebih lebih lama? Makan  dengan lambat ternyata tidak selamanya terlihat buruk. Bahkan, sejumlah manfaat kesehatan bisa Anda peroleh dengan memberikan waktu lebih lama ketika Anda menyantap makanan. Manfaat tersebut antara lain:

*Cegah makan terlalu banyak 

Rasa kenyang biasanya tidak langsung datang begitu saja. Semakin banyak waktu yang Anda luangkan dalam menyantap makanan, semakin banyak waktu untuk otak Anda memutus sinyal atau rasa lapar. Bahkan, makan perlahan dapat membantu Anda menurunkan berat badan, atau setidaknya memberikan kontribusi untuk tetap menjaga berat badan yang sehat.

* Lebih nikmat

Makan satu gigitan pada suatu waktu memungkinkan Anda untuk menikmati makanan lebih lama. Untuk melakukannya, luangkan waktu untuk duduk, makanlah bersama orang-orang yang menyenangkan dan fokus pada apa yang Anda makan sambil menghindari gangguan seperti televisi. Memperlambat waktu makan berarti menjaga kesehatan Anda dan menikmati kesenangan gastronomi.

* Pencernaan yang lebih baik

Tahukah Anda bahwa bagian penting dari pencernaan terjadi di mulut dengan enzim yang diproduksi oleh air liur Anda? Pencernaan karbohidrat sebenarnya dimulai di mulut Anda dan kemudian berlanjut di usus kecil Anda. Protein dicerna terutama di perut Anda. Bila Anda mengunyah, perut Anda akan dikirim pesan tentang apa yang Anda makan sehingga dapat menyiapkan enzim yang diperlukan. Jadi, makan perlahan dan mengunyah dengan baik akan meningkatkan pencernaan Anda.

* Cegah resistensi insulin

Penelitian di Jepang menemukan, makan cepat berhubungan dengan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah suatu kondisi diam yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena diabetes dan penyakit jantung. Juga, makan cepat tampaknya menjadi faktor risiko sindrom metabolik (kombinasi dari gejala-gejala seperti tekanan darah tinggi, obesitas, kolesterol tinggi, dan resistensi insulin).

* Hindari risiko refluks gastroesophageal

Makan cepat dapat menyebabkan refluks asam. Ini mungkin terutama berlaku bagi orang yang menderita gastroesophageal reflux disease (GERD). GERD merupakan penyakit saluran cerna bagian atas yang terjadi karena asam lambung dengan derajat keasaman yang tinggi naik ke kerongkongan.

Sumber : http://health.kompas.com

Apa yang akan terjadi jika anak dibesarkan dalam kondisi yang dipenuhi dengan kekerasan? Tentu, ia akan mengadopsi cara-cara yang sering ia lihat ke dalam kehidupannya kelak. Meski tak selalu, lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya, termasuk bagaimana orang tua mendidik mereka.

Anak yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang nyaman tentu berbeda dengan anak yang selalu diberi hukuman fisik oleh orang tuanya. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang tidak tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan.

Nah, berikut ini adalah 10 hal yang harus dihindari dalam mendidik anak:

1. Terlalu lemah Misalnya, selalu memenuhi semua permintaan anak. Anak tidak diajar untuk mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi terlalu penuntut, impulsif (gampang melakukan tindakan tanpa perhitungan), egois, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.

2. Terlalu menekan Misalnya, orang tua terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginannya sendiri, atau untuk mengembangkan minat dan kegiatan yang ia inginkan. Akibatnya, anak akan menjadi lamban, selalu bekerja sesuai perintah, tidak memiliki pendirian, dan suka melawan.

3. Perfeksionis Orang tua menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang umumnya melebihi kemampuan yang wajarnya dimiliki anak. Akibatnya, anak akan terobsesi untuk meraih prestasi yang diharapkan orang tuanya. Ia juga akan menjadi terlalu keras dan kritis terhadap dirinya sendiri.

4. Tidak memberi perhatian Orang tua hanya menyediakan sedikit waktu untuk memperhatikan setiap perkembangan anak, atau membantu anak menempuh tahap demi tahap perkembangannya. Akibatnya, anak tak mampu membina hubungan dengan lingkungannya dan akan tumbuh menjadi anak yang impulsif.

5. Terlalu cemas akan kesehatannya Orang tua terlalu berlebihan mencemaskan kondisi fisik anak. Padahal, secara obyektif, anak sehat. Sakit sedikit saja, orang tua cemasnya minta ampun. Akibatnya, anak akan mudah merasa tak sehat dan ikut merasakan kecemasan yang sama. Enggan bermain, takut jatuh, dan sebagainya. Baca lebih lanjut

Setiap orangtua tentu menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Hal itu dapat dicapai dengan menerapkan pola pengasuhan positif terhadap buah hati mereka.

Di Amerika Serikat, berkembang sebuah kampanye ‘five-a-day’ untuk perkembangan anak, yang berasal dari sebuah wadah pemikir bernama CentreForum. Kampanye itu berisi lima hal penting yang harus dilakukan setiap orangtua terhadap anak-anaknya, yaitu:

Membaca untuk anak selama 15 menit

Otak anak-anak mempelajari bahasa jauh lebih mudah pada tahun-tahun awal. Selain itu, paparan kata-kata yang berbeda sebanyak mungkin juga membantu membangun kosakata mereka.

Bermain di lantai bersama anak selama 10 menit

Bayi biasanya berusaha berinteraksi melalui ocehan dan gerak tubuh. Orangtua harus mendorongnya dengan bermain pada tingkat fisik mereka, yaitu di lantai.

Bercakap-cakap dengan anak selama 20 menit tanpa televisi
Anak-anak dari latar belakang miskin biasanya jauh lebih sedikit mendengarkan kata-kata yang diucapkan setiap harinya, dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga kaya.

Dengan mematikan televisi dan berbicara, orangtua dapat meningkatkan kemampuan verbal dan keahlian membaca anak-anaknya, serta mempersiapkan mereka untuk bersekolah. Baca lebih lanjut

Seiring bertambahnya kemakmuran rakyat Indonesia, ledakan jumlah pasien diabetes mellitus (DM) takkan terelakan lagi di bumi Nusantara. Dalam waktu dekat ini, diperkirakan jumlah pengidap diabetes akan mencapai 5 juta jiwa. Masalah akan menjadi lebih pelik lagi bila sejak saat ini tidak direncanakan penanganannya secara seksama.

DM yang kita kenal sebagai penyakit kencing manis, merupakan penyakit keturunan (genetik, kelainan bibit) yang menyebabkan gangguan produksi hormon insulin (resistensi insulin pada diabetes tipe 2 dan tidak adanya produksi insulin pada diabetes tipe 1). Hormon insulin inilah yang mengatur gula di dalam darah sehingga kembali normal.

Sebelum hormon insulin ditemukan pada tahun 1921, biasanya pasien akan berumur pendek, masalah pengobatan dan komplikasi menjadi rumit. Setelah ditemukan hormon insulin, terjadi peningkatan usia harapan hidup.

Sebenarnya, diabetes melitus tidaklah menakutkan bila diketahui lebih awal. Tetapi kesulitan diagnostik timbul karena DM datang dengan tenang, dan bila dibiarkan akan menghanyutkan  pasien ke dalam komplikasi fatal.

Sayangnya, menurut para ahli di dunia, secara epidemiologis diabetes seringkali tidak terdeteksi. Dikatakan bahwa onset atau mulai terjadinya diabetes adalah 7 tahun sebelum diagnosis ditegakkan, sehingga morbiditas dan mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi ini.

Penelitian lain menyatakan, adanya urbanisasi membuat populasi diabetes tipe 2 akan meningkat 5-10 kali lipat karena terjadi perubahan perilaku rural-tradisional menjadi urban. Faktor risiko yang berubah secara epidemiologis diperkirakan adalah bertambahnya usia, lebih banyak dan lebih lamanya obesitas, distribusi lemak tubuh, kurangnya aktivitas jasmani dan adanya hiperinsulinemia. Semua faktor ini berinteraksi dengan beberapa faktor genetik yang berhubungan dengan terjadinya DM tipe 2.

Betapa kejamnya diabetes mellitus menghantam pasien, seperti pembunuh berdarah dingin. Diam-diam daging penderita DM menjadi busuk, perlahan namun pasti.  Inilah beberapa dampak lain DM :

1. Jantung diabetes, seperempat jumlah tempat tidur di Intensif Coronary Care Unit (ICCU) harus diserahkan kepada pasien diabetes mellitus, 50% mengalami kematian:

2. Kaki diabetes, mencapai 14,8% dengan segala penanganan sederhana sampai amputasi.

3. Mata diabetes, menduduki porsi yang besar mencapai 22,8% dengan kebutaan 1-2%

4. Ginjal diabetes, mencapai 20%, dengan keharusan cuci darah dan kematian sebagai titik akhir

5. Saraf diabetes, berupa gangguan saraf tepi, kelumpuhan dan impoten satu komplikasi yang paling menyiksa perasaan laki-laki.

Lebih rumit lagi, Baca lebih lanjut

Penyakit diabetes pada anak-anak perlu semakin diwaspadai para orang tua. Data sebuah penelitian kecil menunjukkan, jumlah anak-anak penderita diabetes terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup.

Menurut data yang diungkap dr.Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), jumlah anak-anak penderita diabetes dalam kurun dua tahun terakhir ini menunjukkan kecenderungan terus naik. Meskipun data ini tidak mewakili secara nasional, tetapi angka kenaikannya perlu diwaspadai.

“Tahun 2011 ini, ada 65 anak diabetes yang tercatat, naik 400 persen dari tahun 2009. Dari jumlah itu, sebanyak 32 anak menderita diabetes melitus atau diabetes tipe dua,” ungkap Aman pada acara konferensi pers ‘Cermati Asupan Gula Berlebih pada Susu Anak’ yang diadakan oleh Fonterra Brands Indonesia di Jakarta, Rabu (15/6/2011).

Aman menjelaskan, penyakit diabetes pada anak-anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola makan yang buruk, adanya riwayat diabetes di keluarga, anak lahir dengan berat badan rendah, serta kegemukan (obesitas).

Faktor kegemukan adalah poin yang perlu menjadi perhatian khusus, karena fenomena ini tengah menggejala di masyarakat.  Dr.Rini Sekartini, Sp.A (K), ahli tumbuh kembang anak dari FKUI yang melakukan penelitian pada 100 anak usia 3-6 tahun di tiga Taman Kanak-kanak (TK) dan satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Jakarta menemukan, 20 persen anak TK mengalami obesitas dan 17,1 persen anak di PAUD obesitas.

Hal serupa juga terungkap dalam hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, yang menunjukkan prevalensi obesitas di kalangan balita Indonesia terus meningkat.  Prevalensi kegemukan pada balita mengalami kenaikan dari 12,2 persen pada 2007 menjadi 14 persen pada 2010.

Tingginya asupan gula pada makanan anak-anak, kata Aman, menjadi faktor yang harus diwaspadai para orang tua. Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan asupan gula tambahan pada anak seharusnya tidak melebihi 10 persen dari total energi yang dikonsumsi.

Artinya, berdasarkan angka kecukupan gizi Indonesia 2004, anak usia 1-3 tahun seharusnya mengonsumsi kurang dari 25 gram gula tambahan per hari atau setara dengan 5 sendok teh. Di usia 4-6 tahun jumlahnya tidak melebihi 38 gram atau sekitar 8 sendok teh.

Asupan gula terbanyak yang dikonsumsi anak adalah sukrosa yang mencapai 49,5 gram dan terbanyak berasal dari konsumsi susu formula. “Prosentase ini sudah melebih ambang batas yang direkomendasi WHO,” tutur Aman.

Untuk mencegah obesitas pada anak, Baca lebih lanjut

Dunia sedang menghadapi ledakan penderita diabetes. Data paling baru menyebutkan angkanya mencapai 350 juta orang di seluruh dunia, jauh melebihi prediksi Federasi Diabetes International (IDF) yang memproyeksikan tahun 2010 ada 285 juta penduduk dunia yang akan menjadi korban penyakit yang bisa merenggut penglihatan, bahkan kematian ini.

Walaupun para ahli sepakat diabetes merupakan masalah kesehatan terbesar di abad 21, nyatanya masih banyak orang yang angkat bahu ketika ditanya tentang kemungkinan menderita penyakit ini. Selain karena gejalanya memang tidak terlihat, tak sedikit yang masih mengira penyakit ini disebabkan karena mengasup makanan manis terlalu banyak.

Padahal, menurut dr.Budiman Darmowidjojo, Sp.PD, diabetes melitus tidak berhubungan dengan kebanyakan makan gula. Seseorang didiagnosis diabetes ketika tubuhnya tidak cukup menghasilkan insulin atau tidak menggunakan insulin yang ada dengan benar. “Tidak benar jika penyakit ini timbul karena kebanyakan makan makanan manis,” katanya.

Faktor yang menyebabkan tingginya jumlah penderita adalah karena perubahan pola makan menjadi tinggi lemak dan kurangnya aktivitas fisik.  Keterkaitan penyakit ini dengan gula mungkin berpangkal dari kenyataan penderita diabetes harus membatasi asupan gula mereka.

“Yang harus dibatasi sebenarnya bukan hanya gula, tetapi total kalori karena sebagian besar yang kita makan untuk dijadikan energi akan diubah menjadi glukosa. Pada penderita diabetes, pola makan yang tidak terkontrol akan meningkatkan kadar glukosa,” papar dokter dari Divisi Endokrinologi dan Metabolisme Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Jakarta.

Pada orang sehat, glukosa secara otomatis diserap oleh sel-sel. Tubuh menggunakan insulin yang dihasilkan oleh sel B pankreas untuk membuka reseptor sel sehingga glukosa bisa masuk. Akan tetapi pada orang yang menderita diabetes, terjadi resistensi insulin sehingga gula darah tidak dapat masuk. Baca lebih lanjut

Pengaturan makan merupakan pilar terpenting bagi pengobatan diabetes. Penderita diabetes (diabetesi) yang bijak pasti mau belajar mengenali makanan yang menyebabkan gula darahnya tinggi dan berusaha menghindari makanan tersebut.

Pada dasarnya diabetesi bisa mengonsumsi segala makanan seperti orang lain, tetapi harus dibatasi yang mengandung gula, lemak, dan kadang-kadang makanan yang bergaram tinggi. Penting pula awasi jumlah makanan yang diasup.

Disadari atau tidak alam telah memberikan beberapa makanan luar biasa yang dapat membantu mengontrol kadar gula darah Anda. Berikut ini adalah 11 makanan yang baik untuk gula darah: 1. Labu pahit (Karela)

Jika Anda memiliki anggota keluarga menderita diabetes, sudah saatnya untuk menyiapkan karela di meja makan. Sayuran ini sangat bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah dan kencing manis. Tetapi jangan menggabungkan makanan ini dengan obat penurun gula darah, karena bisa membuat gula darah Anda turun drastis.

2. Gandum

Cobalah untuk memasukkan lebih banyak produk gandum dalam daftar makanan Anda. Disamping mengandung banyak vitamin esensial, mineral, dan serat, gandum juga mengandung karbohidrat kompleks yang diperlukan tubuh untuk menghasilkan energi. Karbohidrat kompleks diserap lebih lambat ketimbang karbohidrat sederhana, sehingga kadar gula darah tetap stabil.

3. Apel

Kandungan pektin tinggi dalam buah ini dipercaya membantu menurunkan kebutuhan insulin tubuh. Sebuah studi tahun 2005 menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi setidaknya satu apel sehari 28 persen lebih kecil menderita diabetes tipe 2 ketimbang mereka yang tidak makan apel.

4. Kacang

Serat larut yang tinggi dalam kacang tidak hanya bermanfaat untuk sistem pencernaan dan jantung, tetapi juga menyimpan gula darah setelah makan. Jika Anda mengalami resistensi insulin, hipoglikemia atau diabetes, kacang benar-benar dapat membantu Anda menyeimbangkan kadar gula darah. Baca lebih lanjut