Archive for Desember, 2011


30 Langkah Penting Mengarahkan Anak

Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).

Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian sesrius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala.

Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa karenanya.

Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya. Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai berikut:

• Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.

• Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.

• Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut saja. Baca lebih lanjut

Apabila anak bertingkah mengesalkan, membangkang, mengumpat atau mencuri, apa yang akan Anda lakukan? Menasehati, membentak, mencubit atau memukul? Mungkin Anda memilih menasehati. Tetapi banyak orang tua memilih memukul, bahkan menghajar untuk mendisiplinkan anak atau mendidiknya agar bersikap lebih baik.

Seto Mulyadi, pemerhati anak berpendapat, tindak kekerasan (hukuman fisik) dalam bentuk apapun pada anak tidak dapat ditoleransi. Hal tersebut selain tidak akan efektif juga akan merusak komunikasi dengan anak serta melanggar hak anak.

Senada dengan Seto Mulyadi, Ery Sukresno, Psi. juga berpendapat bahwa hukuman fisik tidak perlu diberikan kepada anak. Menurut Ery, “Berdasarkan penelitian, terungkap anak tidak dapat menangkap pesan atau kesan bahwa ia melakukan kesalahan setelah mendapat hukuman fisik. Yang justru tertangkap adalah pesan bahwa ia boleh memberikan hukuman fisik kepada orang lain.”

Lebih lanjut pecinta anak ini menuturkan, hukuman fisik juga bisa merusak harga diri anak. Karena biasanya sambil memberikan hukuman fisik, orang tua juga memarahi anak misalnya mengatakannya sebagai anak nakal. Orang tua tidak memberikan alternatif bagaimana seharusnya ia bersikap.

Ketimbang memberikan hukuman fisik, Ery menyarankan untuk mendisiplinkan anak. “Disiplin berasal dari kata disciple yang berarti mentraining (melatih) untuk membentuk tingkah laku baru atau memperbaiki tingkah laku. Dalam disiplin, tidak ada hukuman. Yang ada konsekuensi.” Baca lebih lanjut

Ini sebuah cerita ringan tentang kebosanan. Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu: “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”
Pak Tua: “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”
Tamu: “Kenapa kita merasa bosan?”
Pak Tua: “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”
Tamu: “Bagaimana menghilangkan kebosanan?”
Pak Tua: “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.”
Tamu: “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”
Pak Tua: “Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”
Tamu: “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”
Pak Tua: “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”
Tamu: “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”
Pak Tua: “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.”

*Lalu Tamu itu pun pergi.*

*Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.*

Tamu: “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”
Pak Tua: “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”
Tamu: “Contohnya?”
Pak Tua: “Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.”

*Lalu Tamu itu pun pergi.*

*Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.*

Tamu: “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?” Sambil tersenyum Pak Tua berkata:

“Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria.Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”


*) Dikompilasi dari milis

 

 

 

 

 

 

 

 

Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh

“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)

Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.

“Setan melilit leher seorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, ‘Nikmatilah malam yang panjang ini’. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas”. Baca lebih lanjut

Anak Kerap Batuk, Waspadai Radang Paru

Sudah seminggu ini Doni (4) batuk terus. Belakangan, nafasnya berubah menjadi cepat dan sesak. Setelah dibawa ke dokter, ternyata Doni terkena radang paru atau pneumonia. Sebenarnya, apa, sih, pneumonia itu?

Di dalam paru-paru, terang dr. Darmawan BS, Sp.A  dari Bagian Pulmonologi FKUI-RSCM ini, terdapat lobus atau belahan. Di sebelah kanan terdapat 3 lobus, sedangkan di sebelah kiri 2 belahan. Bila radang tersebut mengenai salah satu lobus, maka disebut pneumonia lobaris . Bila kena di saluran nafas yang kecil-kecil disebut broncholitis .

Kalau secara umum terkena saluran nafasnya saja, maka disebut broncho pneumonia  atau pneumonia. Pneumonia ini merupakan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) bagian bawah. Jangan salah, lo, ISPA itu send

Yang dimaksud dengan ISPA itu sendiri, bisa radang hidung (misalnya pilek), radang tenggorok, radang tonsil (amandel), sampai paru-paru. “Justru, yang perlu dibedakan adalah, apakah ISPA ini sudah sampai ke pneumonia  atau hanya ISPA bagian atas saja. Kalau hanya ISPA bagian atas, seperti batuk, pilek, flu, amandel, biasanya tidak terlalu berbahaya. Umumnya ISPA bagian atas ini tidak disertai dengan nafas cepat dan sesak. Sedangkan, ISPA bagian bawah atau pneumonia , termasuk penyakit berat,” tutur Darmawan.

Penyebab dari pneumonia  itu sendiri banyak ragamnya. Bisa karena virus, bakteri, atau karena kemasukan cairan/pneumonia  aspirasi.

Waspadai gejalanya

Yang jelas, pneumonia  ini dapat menyebabkan pada kematian. Karena itu, sebaiknya para orang tua mengenali gejalanya. Dua gejala khas yang gampang terlihat dari penderita pneumonia  yaitu adanya nafas cepat dan sesak. Namun ingat, nafas cepat pada setiap tingkatan umur pun tidak sama, lo. Jadi, tergantung dari usianya.

Bayi di bawah usia 2 bulan baru dikatakan bernafas cepat jika nafasnya lebih dari 60 kali/menit. Baca lebih lanjut

Pemberian antibiotik yang tidak tepat menimbulkan kuman yang resisten.

Banyak praktisi medis yang mendengung-dengungkan pentingnya pemakaian antibiotik secara rasional. Namun, saat anak demam, pilek, atau batuk, masih banyak orangtua yang berharap antibiotik dapat menyembuhkan apa pun penyakit anaknya dengan segera. Padahal, tidak semua penyakit memerlukan antibiotik dan tidak semua bibit penyakit dapat dimusnahkan oleh antibiotik, Contohnya flu.

Antibiotik tidak dapat mematikan virus yang merupakan biang keladi flu. “Pada dasarnya, flu akan sembuh sendiri. Pemberian antibiotik hanya menimbulkan efek plasebo,” kata dr Purnamawati S Pujiarto, Sp.A. (K), MMPed. Untuk menangani virus flu, lanjutnya, cukup dengan mengonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan pemberian obat penurun panas jika suhu tubuh di atas 38,5º C.

Sayangnya, ada juga dokter yang dengan mudah meresepkan antibiotik untuk penyakit-penyakit yang disebabkan virus. Alasannya, stamina tubuh saat sakit sedang turun sehingga perlu diberikan antibiotik agar kuman lain tidak datang dan menyerang tubuh. “Padahal, sejak lahir setiap anak memiliki sistem imunitas yang baik. Ketika penyakit datang, imunitas tubuh akan langsung menghalaunya,” ungkap duta WHO untuk penggunaan obat secara rasional ini.

Gunakan secara tepat

Antibiotik berbeda dari obat pada umumnya. Sebagian besar obat bekerja aktif pada sel-sel manusia, sedangkan antibiotik bekerja membunuh bakteri dan sedapat mungkin tidak menyentuh sel-sel manusia. Antibiotik diserap kemudian diedarkan menuju tempat penyebab infeksi. Hanya bakteri yang dibunuh sehingga antibiotik tidak akan berguna jika tubuh tidak terinfeksi bakteri. Antibiotik justru akan membunuh bakteri baik dalam tubuh. Antibiotik baru diperlukan bila kita terkena infeksi bakteri, seperti tifus, tuberkulosis, infeksi telinga, atau infeksi sinus berat. Baca lebih lanjut

Pada dasarnya, dokter memiliki panduan pertanyaan untuk memberikan antibiotik. Hanya saja kendala yang paling sering dihadapi adalah membedakan infeksi virus dengan infeksi bakteri ringan atau moderat sebab gejalanya hampir sama.

Akan tetapi, sebenarnya, dari gejala-gejala yang umum, dokter berdasarkan ilmu dan pengalamannya bisa dengan tepat menentukan pemberian antibiotik. Bagi kita, penting juga untuk mengetahui pertimbangan apa saja yang membuat dokter memberikan antibiotik agar kita bisa mengonsumsinya secara tepat. Sebab ini adalah obat yang jika dikonsumsi tidak sesuai aturan atau kurang tepat peruntukannya bisa menimbulkan efek samping. Jadi, yang perlu kita perhatikan saat mendapatkan resep antibiotik adalah:

Panas tinggi: suhu badan yang tinggi, dengan rasa linu di seluruh tubuh, dan disertai dengan tubuh yang gemetar seperti mengigil bisa jadi adalah infeksi karena bakteri. Biasanya gejala ini akan membuat dokter meresepkan antibiotik karena merujuk pada infeksi akibat bakteri.

Akan tetapi, suhu tubuh yang tinggi juga akan dialami oleh orang yang terkena infeksi akibat virus, seperti flu. Itu mengapa, jika demam masih kurang dari tiga hari, sebaiknya jangan langsung meminta antibiotik sebab bisa jadi itu infeksi karena virus.

Berapa lama rasa sakit sudah kita rasakan. Jika selama lebih dari tiga hari panas tubuh tak kunjung berhasil diredam dengan obat penurun panas, dokter akan meminta kita melakukan pemeriksaan darah. Dari sini akan terlihat apakah suhu tubuh yang meninggi itu disebabkan oleh bakteri atau virus. Dari situ juga akan ditentukan antibiotik apa yang cocok bagi kita jika panas disebabkan oleh bakteri.

Apa warna lendir dari hidung kita. Jika lendir dari hidung atau ingus kita bening, itu disebabkan oleh virus yang biasanya menyebabkan flu. Namun, jika bewarna hijau atau kekuningan, itu pertanda adanya bakteri dalam saluran pernapasan kita. Sebenarnya warna ingus sedikit tidak bisa dijadikan panduan sebab pada jenis infeksi pernapasan tertentu warnanya juga bisa menjadi kehijauan. Hanya saja warna ingus ini bisa menjadi salah satu pertimbangan dokter untuk memberikan resep antibiotik atau tidak.

Radang tenggorokan. Meski tenggorokan terlihat berwarna merah menyala, sebenarnya bukan itu yang dicari dokter ketika ingin memberikan resep antibiotik. Adalah spot putih yang merupakan tanda adanya bakteri menyerang tubuh kita. Jika ini ada, dokter akan mempertimbangkan pemberian antibiotik.

Selain tenggorokan, biasanya warna lidah kita pun akan menjadi referensi dokter. Lidah yang berwarna putih pucat biasanya akan mengindikasikan ada infeksi akibat bakteri.

Pada dasarnya, dokter akan menuliskan resep antibiotik ketika melihat hasil laboratorium. Bisa dari sampel darah, lendir di atas lidah, ludah, dan ingus. Sampel ini akan diteliti untuk kemudian dilihat apa sebenarnya yang membuat tubuh kita kesakitan. Jadi, jika dokter meresepkan antibiotik, jangan ragu untuk bertanya hasil laboratorium mana yang menunjukkan adanya serangan bakteri. Dan, ingat untuk mengonsumsi antibiotik sesuai dosis hingga habis. Sebab, jika tidak, saat bakteri sejenis kembali menghampiri, sistem kekebalan tidak terbentuk sempurna.

Sumber : http://health.kompas.com