Soto Sangka yang Khas dari Banyumas
Soto Sangka merupakan nama yang terkenal di kalangan masyarakat Banyumas. Ini adalah soto yang legendaris karena sudah ada sejak tahun 1925. Katanya sih klangenan para pejabat.

Kalo dilihat sekilas, warung ini biasa-biasa saja. Sederhana, kecil, tidak ramai namun ternyata pejabat-pejabat di Jakarta katanya menyukainya. Tempatnya juga hanya di sebuah kota kecil, ibukota kecamatan Banyumas.
Alamat tepat dari warung ini adalah : Jl. Karangsawah No 35 RT 06 RW 02 Desa Kedunguter, Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Letaknya di timur alun-alun Banyumas dengan pemiliknya adalah Bapak Sumardi dan ada satu lagi yaitu di sebelah utara Polsek Banyumas dengan pemiliknya Ibu Sumarni yang tak lain adalah anak dari pemilik Soto Sangka.

Yang disajikan di warung ini adalah Soto Khas Banyumas atau ada juga yang menyebut dengan Sroto. Soto Khas Banyumas dibandingkan dengan Soto daerah lain, ada 2 perbedaan yang paling mencolok.
• Pertama, Soto Banyumasan menggunakan Ketupat, bukan nasi.
• Kedua, sambal yang digunakan adalah sambal kacang.
Masalah isi juga sebenarnya berbeda, karena Soto Banyumasan isinya lebih banyak sehingga terkesan kental dan ini jugalah yang membedakan dengan soto dari daerah lain..
Soto Banyumasan juga biasanya disajikan dengan mangkuk besar, satu porsi dijamin kenyang. Namun khusus Soto Sangka ini agak unik karena mangkoknya lumayan kecil.
Katanya penggunaan mangkuk kecil itu memang dipertahankan dari pertama kali warung Soto ini buka. Hal lain yang dipertahankan adalah alat masaknya yang menggunakan kayu bakar.

Alat masaknya menggunakan bahan bakar kayu, jadi asap pasti mengepul dan juga dinding warung jadi hitam.

Sejarah Soto Sangka

Warung ini didirikan oleh Samadi, pada tahun 1925. Sejak awal warung itu berdiri di Jalan Karangsawah, Desa Kedunguter, Kecamatan Banyumas. Ketika Samadi tak bisa lagi meneruskan usaha karena usia lanjut, usaha itu diteruskan anaknya, Sangka. Sang anak menggunakan namanya, Sangka, sebagai merek. Kemudian penerusnya adalah Sumardi. ”Saya generasi ketiga. Sekarang saya berjualan dengan anak perempuan saya,” tutur lelaki yang kini berusia 70-an tahun itu.
Dia menjaga cita rasa, termasuk sajian yang dihidangkan dengan mangkuk kecil. Dia pun tak ingin mengubah perapian dengan kompor gas atau minyak. Karena itulah ketika api mengecil, dia harus meniup bara dengan sepotong bambu kecil yang biasa disebut semprong.
Bumbu yang dia pakai sama, yakni ramuan jahe kunir, merica bala, bawang putih, dan bawang merah. Di dalam mangkuk kecil, soto dihidangkan dengan ketupat, taoge, daging ayam jawa, muncang, kacang goreng, dan bawang merah goreng.
Sumardi menyatakan tidak ngaya mencari nafkah. Biasanya dia membuka warung sejak pukul 09.00 dan menutup pukul 15.00. Tak pernah kurang atau lebih. Tubuh renta tampaknya membuat dia tak bisa lagi bekerja lebih lama.
Ketika para bekas pelayannya keluar dan mendirikan usaha soto, dia tak memprotes. ”Sudah ada beberapa pelayan keluar dan buka warung soto di desa masing-masing. Tidak masalah. Namanya juga rezeki, sudah ada yang mengatur,” ujar dia.
Pejabat dan mantan pejabat penggemar soto sangka antara lain Jenderal (Purn) Surono (menteri koordinator bidang politik dan keamanan pada masa Orde Baru) Purwoto Gandasubrata (mantan Ketua Mahkamah Agung), dan almarhum Soepardjo Roestam (mantan menteri dalam negeri ).

Iklan